MOBILITAS PARIWISATA DI KAWASAN ISTANBUL TURKI SEBELUM PANDEMI COVID-19

Cappadoccia, atau Cavvadoccia. Negeri di atas langit yang belakangan menjadi sasaran pariwisata dunia termasuk Indonesia. Gelombang turis dan wisatawan yang menuju Turki semakin melambung. Sebelum pandemi covid muncul dan mematikan berbagai sektor ekonomi hingga pariwisata, Turki menjadi salah satu tujuan berlibur atau beribadah Umroh dan Hajji. Pun ketika pandemi covid merajalela, Turki justru menjadi primadona negara dambaan seluruh dunia untuk sekedar “healing” dari penatnya standar aturan kesehatan yang diwajibkan dalam skala Internasional. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, Turki berhasil menjadi negara yang tetap produktif baik dalam bidang pariwisata dan ekonomi. Mobilitas yang terjadi tentu saja ditemukan peningkatan yang terasa begitu signifikan. Artinya, terdapat pergerakan mobilitas yang meningkat pula di Turki.


"Semakin tinggi mobilitas suatu negara, maka semakin maju negara tersebut"
Mobilitas sosial ialah suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial lainnya. Mobilitas sosial juga merupakan perpindahan individu-individu, keluarga-keluarga, dan kelompok sosialnya dan satu lapisan ke lapisan sosial lainnya. Mobilitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai gerakan berpindah-pindah atau kesiap-siagaan untuk bergerak. Bentuk mobilitas sosial pada dasarnya terbagi menjadi tiga, yaitu mobilitas sosial vertikal, mobilitas sosial horizontal, dan mobilitas sosial antar generasi. 

Meski kasus covid masih meningkat, namun tingkat mobilitas ternyata justru berkembang di beberapa negara. Terlebih dalam sektor pariwisata. Ini merupakan kabar baik, artinya di negara maju sudah mulai terkendali, yang mana dampaknya ialah, mobilitas di negara maju terus bertambah dan di negara berkembang juga mulai ada peningkatan. Di Indonesia, perkembangan covid yang masih tinggi berdampak pada mobilitas ritel dan rekreasi yang melandai. Sementara di Turki dengan sempitnya mobilitas internasional justru berhasil dimanfaatkan menjadi sebuah kesempatan untuk meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi. Bagi negara Turki, pandemi covid bukan penghambat mobilitas atau sebab yang dapat mematikan sektor pariwisatanya. 


ISTANBUL KOTA SEJARAH 

Langkah Pertama di Tanah Konstantinopel

Pada tahun 2017 tepat setelah kelulusan sekolah menengah atas, saya menginjakkan kaki di kota bersejarah negara Ottoman dengan niat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negara tersebut. Istanbul, Turki. Beberapa first impression saya sebagai mahasiswa asing di negara tersebut ialah; klasik, bersejarah, sekuler sekaligus islami, serta pariwisata. Turki yang identik dengan negara sekuler dan nasionalis ternyata tidak seekstrem itu. Nyatanya selalu memberi salam ketika bertemu seseorang seperti merupakan sebuah tradisi yang senantiasa diterapkan. Tingginya kepedulian dan tolong menolong masyarakatnya ketika melihat seseorang yang kesulitan, hingga kebiasaan para lansia di sana yang suka mencium tangan dan pipi sebagai bentuk kasih sayang. Yang terakhir merupakan pengalaman pribadi saya ketika berjumpa dengan lansia, seringnya diawali dengan berbincang sederhana yang kemudian menunjukkan adanya ketertarikan beliau karena senang dengan cerita kami. Dan yang paling sering terlihat ialah banyaknya masjid-masjid besar yang selalu penuh ketika azan berkumandang untuk Shalat berjamaah. Masjid-masjid ini kebanyakan merupakan sebuah peninggalan bersejarah dari jaman Ottoman atau Kesultanan Utsmani, dan jejak atau prasasti bersejarah lainnya dari negeri Konstantinopel menjadi sebuah peluang dalam sektor mobilitas pariwisata di Turki, khususnya Istanbul sebagai jantung kota Byzantium. Beberapa masjid di antaranya ialah seperti Haghia Sophia, Sultan Ahmet Camii, Ulu Camii, Yesil Camii, Camlica Camii dan masjid besar lainnya. 


Istanbul, Turkey skyline. (Photo via Seqoya / iStock / Getty Images Plus)


Kartu Transportasi

Sejak awal kedatangan saya di tanah Ottoman, pertama kali kami diwajibkan memiliki kartu tanda penduduk asing atau disebut dengan “Ikamet” dengan keterangan status “Uluslararası Öğrenci” atau ‘Pelajar Internasional’ guna mempermudah pengenalan diri selama di Turki. Setelah mendapat Ikamet, kami juga harus memiliki kartu tanda mahasiswa universitas terkait, hingga kartu perjalanan. Baik itu kartu Trem (kereta) ataupun kartu Otobüs (bis/angkutan umum lainnya). Kenapa kami harus memiliki kartu transportasi tersebut?

 

Mobilitas di Istanbul sangat amat pesat. Orang-orang datang dan pergi dalam waktu yang serentak menuju suatu tempat ke tempat lainnya secara bersamaan. Dalam setiap 5-10 menit kereta datang bergantian dengan kemungkinan membawa kurang lebih 50 penumpang dalam satu gerbong dan jika padat bisa sampai 100 penumpang, dengan satu kereta memiliki total 10 gerbong. Artinya, per-lima menit dalam satu kereta terjadi pergerakan mobilitas sampai 1000 penumpang. Sedangkan jika menggunakan Otobüs bisa sekitar 100 orang setiap menitnya. Negara yang berada di dua benua Asia-Eropa tersebut sangat amat menghargai waktu. Kedisiplinannya begitu tinggi dan relatif individualis meskipun tetap saja mereka sangat ramah ketika berinteraksi. Semakin cepat mereka sampai ke tujuan semakin efektif pula waktu yang mereka gunakan untuk mengerjakan kewajiban dan aktivitas yang telah dirancang sebelumnya. Mobilitas sehari-hari sangat efektif dan bergerak secara berkesinambungan.





PENINGKATAN PARIWISATA DI ISTANBUL TURKI SEJAK 2018 


Haghia Sophia,

Ayasofya’i Kebir Camii Şerifi

Lalu, bagaimana dengan pariwisatanya? Berdasarkan pengamatan saya, pada tahun 2018 wisatawan dari manca negara mulai meningkat, terlebih pada kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan berbagai pusat hiburan dan pariwisata terbuka dengan harga yang masih dikategorikan terjangkau bagi berbagai kalangan. Puncaknya pada tahun 2020 atau bertepatan dengan dibebaskannya kembali Aya Sofya Muzezi (Moseum of Haghia Sophia) yang sebelumnya merupakan museum bekas Katedral Kristen Ortodoks pada masa Ottoman (Khalifah Utsmani) selama kurang lebih 1,5 abad lamanya menjadi Masjid dengan nama “Ayasofya’i Kebir Camii Şerifi”, atau Hagia Sophia Al-Kabeer Mosque (Masjid Agung Aya Sofya) pada 10 Juli 2020 lalu dan ditandai dengan sholat Jum’at terbesar –kembali- sepanjang sejarah. Fenomena menakjubkan ini seolah menjadi ‘pin point’ dunia kepada negara Turki khususnya Istanbul sebagai lokasi utama Haghia Sophia berdiri yang tentunya memiliki rasa ingin tau akan kebesaran dan sejarah Aya Sofya ini.  




“Cappadoccia, It’s My Dream”

Masih di tahun yang sama, disusul dengan kisah yang sempat hangat atau viral di Indonesia dengan genre romansa yakni perselingkuhan dalam rumah tangga, Turki semakin menjadi perbincangan terkhusus masyarakat Indonesia karena penasaran dengan narasi singkat “Cappadoccia, It’s My Dream” dari drama Layangan Putus yang diangkat dari kisah nyata yang sebelumnya merupakan sebuah novel. Lagi-lagi Turki menjadi sorotan, dan banyak sekali wisatawan dari Indonesia terbang ke Turki untuk ibadah Umroh, Haji atau hanya sekedar berlibur. Baik dari kalangan selebritis, selebgram, maupun masyarakat umum. 




WISATAWAN DARI SELURUH DUNIA 

Turki Negara Favorit

Jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Turki mencapai lebih dari 85.000 orang pada 2018, naik hampir dua kali lipat dibandingkan 2017. Angka tersebut merupakan bagian dari 32,4 juta wisatawan asing yang berkunjung ke Turki sepanjang 2018, menurut data yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata Turki, hari Rabu (31/01). Di antara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia adalah penyumbang wisatawan asing terbesar bagi Turki mulai 2017-2018, diikuti oleh Filipina dengan 63.200 wisatawan, Malaysia dengan 61.100 wisatawan, Thailand dengan 30.700 wisatawan dan Singapura dengan 17.500 wisatawan. Pada 2017 jumlah warga negara Indonesia yang berkunjung ke tempat-tempat wisata di Turki adalah 47.200 orang. Tercatat kenaikan 70% pemesanan dari biro perjalanan asing (pada tahun 2018) dan kemungkinan rekor ini pecah pada tahun 2019.





Ditambah banyaknya program Umrah yang digandengkan dengan perjalanan ke Turki juga dinilai mendorong kenaikan angka wisawatan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir makin banyak biro perjalanan di Indonesia yang menawarkan paket Umrah plus kunjungan ke Turki. Artinya, bisa dibayangkan betapa meningkatnya mobilitas pariwisata dari Indonesia ke Turki, bukan? Setidaknya jumlah wisatawan yang datang ke Istanbul dalam 4 bulan tahun 2021 awal meningkat 135% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 3.882.000 wisatawan. Istanbul mencapai 30-35 % lebih banyak wisatawan dibandingkan tahun 2020.




Mobilitas dan Promosi Pariwisata Istanbul

Yang paling banyak dilakukan oleh para turis di Istanbul adalah fokus mereka dalam hal budaya, seni dan sejarah. Dalam hal ini, upaya pemerintah Turki berusaha supaya perawatan, kebersihan dan perhatian kota Istanbul yang dilihat turis harus terjamin kualitasnya dari berbagai aspek, sehingga nantinya banyak orang di seluruh dunia yang meninggalkan kesan baik mengatakan 'Kami merindukan Istanbul'.


Peningkatan kegiatan budaya di Istanbul salah satunya ialah perluasan pariwisata keagamaan, yang mana masjid Haghia Sophia dan Sultan Ahmet Camii menjadi pusat perhatiannya di jantung kota Istanbul. Ada juga pameran olahraga dan seni, wahana permainan, penampilan teater dan musik tradisional dan pameran keahlian memasak yang menarik wisatawan, beberapa diantaranya ialah jajanan khas Turki seperti dessert pastry Baklava, Lokum, Simit, Pide, Kebab atau jika mampir ke kedai ice cream Dondurma, wisatawan akan mendapat hiburan dari penjual ice cream yang usil. Jelas sekali mobilitas sektor pariwisata di Istanbul akan terus memberikan dukungan yang kuat untuk perekonomian negara, lapangan kerja dan pembangunan juga semakin terbuka untuk mencapai tujuannya, hingga langkah-langkah kerja sama dengan sektor swasta lainnya yang mana hasilnya akan berorientasi menuju kesuksesan promosi dan kegiatan pemasaran Istanbul dan negara Turki ke seluruh penjuru dunia yang dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki dan Badan Pengembangan dan Promosi Pariwisata Turki (TGA).  





Simpulan

Saya melihat bahwa peminatan ke Turki meningkat secara bertahap dan memprediksi pada tahun 2023 akan menjadi tahun yang jauh lebih tinggi. Mobilitas pariwisata yang semakin tinggi pada dua tahun terakhir ini (2020-2022) dari seluruh dunia menuju Turki akan semakin padat diiringi dengan mulai berakhirnya masa pandemi covid-19 atau era baru New Normal. Oleh karena itu, harapan positif terus berlanjut dan kota Istanbul akan menjadi primadona bintang bersinar pertama di dunia. 


Mengingat materi yang sebelumnya telah disampaikan oleh dosen kami mengenai mobilitas negara pada mata kuliah Politik Kerjasama Internasional, program studi Hubungan Internasional, Universitas Mataram, bahwasannya mobilitas negara yang semakin tinggi akan mempengaruhi berbagai dimensi kenegaraan lainnya, mulai dari sektor pariwisata, sosial hingga kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dengan tulisan ini, saya menyimpulkan bahwa Turki telah membuktikan dengan dibukanya kemudahan regulasi dan variasi pariwisata di Turki, khususnya kota Istanbul, akan meningkatkan mobilitas dari berbagai arah penjuru dunia. Artinya, transnasionalisme juga semakin terhubung, kerjasama mungkin saja banyak disepakati, lapangan pekerjaan terbuka lebar, ekonomi mengalami peningkatan pesat, serta kesejahteraan masyarakatnya akan terjamin. 




DAFTAR PUSTAKA 

Horton Dan Hunt; (2009)  

Wiliam Kornblum; (2006) 

BBC News, Turis Indonesia ke Turki Terbanyak Dibandingkan Negara ASEAN Lain, Februari 2019 

Elif Ferhan Yeşilyurt|09.06.2022, İstanbul’a Dünyanın Dört Bir Yanından Turist Akıyor. Artikel telah penulis terjemahkan dari bahasa Turki ke Bahasa Indonesia.

Komentar